"Menginspirasi anda semua"

Rabu, 13 April 2016

Syi`ah Menurut Perspektif Islam

Istilah Syi'ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة Syī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī شيعي."Syi'ah" adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya "pengikut Ali", yang berkenaan tentang Q.S. Al-Bayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: "Wahai Ali kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung" (ya Ali anta wa syi'atuka humulfaaizun)
Syi'ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib sangat utama di antara para sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. Syi'ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi'ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.
Syi’ah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Dari segi bahasa, kata Syi’ah berarti pengikut, atau kelompok atau

Abdul Mun’eim al-Nemr, Sejarah dan Dokumen-dokumen Syi’ah (T.tp.: Yayasan Alumni Timur Tengah, 1988), h. 34-35.
golongan, seperti yang terdapat dalam surah al-Shâffât ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).”
Syi’ah secara harfiah berarti kelompok atau pengikut. Kata tersebut dimaksudkan untuk menunjuk para pengikut ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pertama ahlulbait. Ketokohan ‘Ali bin Abi Thalib dalam pandangan Syi’ah sejalan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan Nabi Muhammad sendiri, ketika dia (Nabi Muhammad—pen.) masih hidup.
Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri (Ahlulbait). Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya.
Para penulis sejarah Islam berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syi’ah. Sebagian menganggap Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib.
Sebagian yang lain menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan atau pada masa awal kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib.
Pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Khalifah ‘Ali dengan pihak pemberontak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkîm atau arbitrasi. Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan ‘Ali memberontak terhadap kepemimpinannya dan

keluar dari pasukan ‘Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij. Sebagian besar orang yang tetap setia terhadap khalifah disebut Syî’atu ‘Alî (pengikut ‘Ali).
Pendirian kalangan Syi’ah bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam atau khalifah yang seharusnya berkuasa setelah wafatnya Nabi Muhammad telah tumbuh sejak Nabi Muhammad masih hidup, dalam arti bahwa Nabi Muhammad sendirilah yang menetapkannya. Dengan demikian, menurut Syi’ah, inti dari ajaran Syi’ah itu sendiri telah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw.
Namun demikian, terlepas dari semua pendapat tersebut, yang jelas adalah bahwa Syi’ah baru muncul ke permukaan setelah dalam kemelut antara pasukan Mu’awiyah terjadi pula kemelut antara sesama pasukan ‘Ali. Di antara pasukan ‘Ali pun terjadi pertentangan antara yang tetap setia dan yang membangkang.
Ajaran Tentang Syi”ah
A.     Ahlulbait. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah   
     Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi   
     Muhammad saw. Ada tiga bentuk pengertian Ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri
     Nabi Muhammad saw dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga,
     terbatas hanya pada Nabi sendiri, ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan imam-imam  
     dari keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Dalam Syi’ah bentuk terakhirlah yang lebih
     populer.
B.     Al-Badâ’. Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak. Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan
     bahwa Allah swt mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah
     ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan
      keputusan Allah itu bukan karena Allah baru mengetahui suatu maslahat, yang  
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam…, h. 5. Lihat juga Joesoef Sou’yb, Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran-aliran Sekta Syi’ah (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1982), cet. ke-1, h. 11.
    
     sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai
      pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur. Imam Ja’far al-Shadiq
      menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah swt baru mengetahui sesuatu
      yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami
     telah kafir kepada Allah swt.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat
     tertentu yang menyebabkan Allah swt memutuskan suatu perkara sesuai dengan
     situasi dan kondisi pada zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as
     dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk
     menyembelih Isma’il as.
C.     Asyura. Asyura berasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh. Maksudnya adalah
     hari kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi’ah sebagai hari
     berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin ‘Ali dan
     keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun  
     61H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan asyura tersebut, selain mengenang
     perjuangan Husain bin ‘Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-orang Syi’ah juga
     membaca salawat bagi Nabi saw dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan
     terhadap Husain dan keluarganya, serta memperagakan berbagai aksi (seperti
     memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan
     terhadap wafatnya Husain bin ‘Ali. Di Indonesia, upacara asyura juga dilakukan di
     berbagai daerah seperti di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam
     bentuk arak-arakan tabut.
D.     Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi saw wafat
      harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi.
      Atau, dalam pengertian Ali Syari’ati, adalah kepemimpinan progresif dan
      revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna
      membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan
      kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian
      dalam mengambil keputusan. Dalam Syi’ah, kepemimpinan itu mencakup
      persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah      
      pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syi’ah,
      kecuali Syi’ah Zaidiyah, penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau
      pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau
      oleh Rasulullah langsung, yang lazim disebut nash.
E.      ‘Ishmah. Dari segi bahasa, ‘ishmah adalah bentuk mashdar dari kata ‘ashama yang
       berarti memelihara atau menjaga. ‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu,
       termasuk Nabi Muhammad, telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perbuatan
       salah atau lupa.[22] Ali Syari’ati mendefinisikan ‘ishmah sebagai prinsip yang
       menyatakan bahwa pemimpin suatu komunitas atau masyarakat—yakni, orang yang
       memegang kendali nasib di tangannya, orang yang diberi amanat kepemimpinan
       oleh orang banyak—mestilah bebas dari kejahatan dan kelemahan.
F.      Mahdawiyah. Berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya
      seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan
      manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi. Dalam Syi’ah,
      figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah seorang dari imam-imam yang mereka
      yakini. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, misalnya, memiliki keyakinan bahwa Muhammad
      bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazhar) adalah Imam Mahdi. Di samping
      itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja manusia biasa
    
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam…, h.5
      tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali    
      dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia.
G.     Marja’iyyah atau Wilâyah al-Faqîh. Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang
      artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilâyah al-faqîh terdiri dari dua
      kata: wilâyah berarti kekuasaan atau kepemimpinan; dan faqîh berarti ahli fiqh atau
      ahli hukum Islam. Wilâyah al-faqîh mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan
      para fuqaha.               
H.     Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali. Raj’ah
      adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang
      paling saleh dan sejumlah hamba Allah yang paling durhaka untuk membuktikan
      kebesaran dan kekuasaan Allah swt di muka bumi, bersamaan dengan munculnya
      Imam Mahdi. Sementara Syaikh Abdul Mun’eim al-Nemr mendefinisikan
      raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang maksudnya ialah bahwa
      sebagian manusiaakan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan
      hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan kembali
      bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk
      memenuhi selera dan keinginan memerintah. Lalu kemudian untuk membalas
      dendam kepada orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali.
I.        Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya
      takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena
      khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini
      terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan. Perilaku
      taqiyah ini boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib dan merupakan salah satu dasar
      mazhab Syi’ah.
J.       Tawassul. Adalah memohon sesuatu kepada Allah dengan menyebut pribadi atau
      kedudukan seorang Nabi, imam atau bahkan seorang wali suaya doanya tersebut
     cepat dikabulkan Allah swt. Dalam Syi’ah, tawassul merupakan salah satu tradisi
      keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa hampir setiap doa mereka
      selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya tawassul dalam Syi’ah terbatas pada
      pribadi Nabi saw atau imam-imam dari Ahlulbait. Dalam doa-doa mereka selalu
      dijumpai ungkapan-ungkapan seperti “Yâ Fâthimah isyfa’î ‘indallâh” (wahai
      Fathimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dsb.
A.                Tawallî dan tabarrî. Kata tawallî berasal dari kata tawallâ fulânan yang artinya
     mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrî berasal dari kata
     tabarra’a ‘an fulân yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari
     seseorang. Kedua sikap ini dianut pemeluk-pemeluk Syi’ah berdasarkan beberapa
     ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallî kepada Ahlulbait
     dan tabarrî dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi mengenai ‘Ali bin Abi
     Thalib yang berbunyi: “Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya
     maka hendaklah ia menjadikan ‘Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang
    yang membela Ali, binasakanlah orang yang menghina ‘Ali dan lindungilah orang
    yang melindungi ‘Ali.” (H.R. Ahmad bin Hanbal)

Al-Nemr, SejarahSyi’ah.Jakarta. Redaksi Islam.h. 146. 

C. Perbedaan Ajaran Sunni dan Syi’ah Dalam Perspektif Islam
Dalam kenyataan, antara ahlu Syiah dengan ahlu Sunnah, lebih banyak persamaannya ketimbang perbedaannya. Sedikit perbedaan hanya menyangkut hal yang tidak prinsipil. Misalnya, mengenai imamah (kepemimpinan) mau pun dalam hal fiqhiyah, perbedaan dalam hal furu’iyah (ranting), bukan pokok. Karena itu, Syiah tidak bisa disebut sekte (diluar Islam, menjadi agama tersendiri).
Sunni dan Syiah menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama dalam menetapkan hukum. Hanya saja, pengertian Sunnah dalam Sunni terbatas pada ucapan, perbuatan, dan pembenaran Nabi atas apa yang diucapkan/dilakukan sahabat-sahabat beliau. Dalam pandangan Syiah, Sunnah mencakup juga ucapan dan tradisi Imam. Sunni dan Syiah mengakui Ijma’ (consensus) sebagai salah satu sumber hukum, walau terdapat perbedaan dalam rinciannya. Dalam Syiah, Ijma adalah consensus para pakar agama mengenai pandangan Imam menyangkut suatu masalah sedangkan dalam Sunni Ijma adalah consensus para ulama dalam masalah apapun. Qiyas (analogi) tidak dijadikan sumber penetapan hukum oleh syiah, namun mereka menempatkan akal dalam kedudukan yang cukup tinggi sehingga apapun yang dibenarkan oleh akal sehat, maka hal tersebut data diterima oleh agama. 
Secara ringkasnya seperti ini:
Sumber penetapan hukum Sunni: 
1. Al Qur’an 
2. Sunnah 



Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu'ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin 'Ali Al-Awaji
3. Ijma’ (Consensus Ulama) 
4. Qiyas (Analogi) 
Sumber penetapan hukum Syiah: 
1. Al Qur’an 
2. Sunnah 
3. Ijma’ (Pandangan pakar agama/Imam) 
4. Akal Sehat (Apapun yang dapat diterima oleh akal sehat, maka itu dianggap tidak   bertentangan dengan agama)
Literature yang menjadi sumber rujukan Sunni (selain al Qur'an): 
1. Shahih Bukhari (Al Jami ash Shahih al Musnad, al Mukhtashar min Hadist Rasulillah)
         karya Abu Abdullah Muhammad (w. 256 H) 
2. Shahih Muslim (al Jami ash Shahih) karya Muslim bin Hajjaj (w. 261) 
3. Sunan Abu Dawud, karya Sulayman bin Asy’ast as Sijistani (w. 275) 
4. Al Jami ash Shahih/Sunan at tirmidzy karya abu isa Muhammad at Tirmidzy (w.  
         279H) 
5. As Sunan/Sunan Ibnu Majah (w. 273) 
6. Sunan an Nasa’I (w. 303) 

Literature yang menjadi rujukan Syiah (selain Al Qur’an): 
1. Ushul al Kafi karya Muhammad Ya’qub al Kulaini (w. 329) 
2. Kitab Man la Yahdurhu al Faqih karya ash Shadiq ibn Bawaih al Qummi (w. 381) 
3. Al Ibtibshar dan Tahdzib al Ahkam karya Muhammad ibn al Hasan at Thusy (w. 460)

35 point Syi`ah bukan bagian dari Islam
Mendengar kata Syi`ah, maka secara umum Ulama-ulama di Indonesia dalam hal ini yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia sepakat bahwa Syi`ah bukan Islam dan telah keluar dari Islam meskipun dalam sejarah awalnya Syi`ah adalah golongan pendukung fanatik dari Sayyidina Ali "Karamallahu Wajhah", suatu kelompok yang Benar-benar setia dalam mendukung dan membantu Khalifah Ali, namun ada sekitar 35 point yang saya kutip dari arrahmah.com tentang Syi`ah yang mana menurut Peneliti Syi`ah dari Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (INPAS) Surabaya yang bernama Kholili Hasib, MA, ada 35 point yang menjelaskan bahwa Syi`ah bukan bagian dari Islam. Pont-point tersebut adalah:

1.      Syiah bukan Islam – sebelum membahas kekeliruan Syiah harus kita  pahami dahulu bahwa Syiah Indonesia adalah Syiah Itsna Asyariah bukan Zaidiyah.
2.      Syiah bukan Islam – Syiah Itsna Asyariyah adalah Syiah yang percaya 12 Imam atau disebut Imamiyah. Syiah ini yang mayoritas ada di dunia  termasuk rezim yang berkuasa di Iran.
3.      Syiah bukan Islam – Syiah Imamiyah inilah yang disebut Rafidhah. Karena mereka mencaci bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi. Syiah Zaidiyah bukan Rafidah karena tidak mencaci sahabat.
4.      Syiah bukan Islam – Ciri khas utama Syiah ada dua yakni kultus berlebihan pada Ali serta keturunannya dan pelecehan terhadap sahabat Nabi.
5.      Syiah bukan Islam – Saya menyimpulkan dua ciri khas utama itu adalah wordlview-nya Syiah. Semua aspek dalam agama pasti berpangkal pada dua hal tsb.
6.      Syiah bukan Islam – Silahkan yang mau membuktikan pemikiran Syiah tentang al-Qur’an, hadits, politik, fiqih diasaskan oleh kultus Ali dan benci kepada para sahabat.
7.      Syiah bukan Islam – Konsep ketuhanan juga dipengaruhi ideologi kultus imamah. Konsep ke esa an Syiah berbeda dengan konsep ke esa an dalam Islam
8.      Syiah bukan Islam – Kitab al-Kafi-kitab hadits syiah yang utama menjelaskan bahwa yg dimaksud musyrik adalah menyekutukan imam Ali dengan imam yg lain.
9.      Syiah bukan Islam – Lebih jelas lagi dalam kitab Bihar al-Anwar,kitab rujukan Syiah, yg mengatakan “Siapa saja tidak percaya Ali adalah Imam pertama adalah kafir.”
10.  Syiah bukan Islam – Jadi yang dimaksud syirik bagi Syiah bukan sekedar menyekutukan Allah tapi juga menyekutukan Ali dalam hal kepemimpinan.
11.  Syiah bukan Islam – Jadi syiah itu sejatinya golongan takfiriyah yang sebenarnya. Mengkafirkan kaum muslimin karena tidak mengangkat Ali sebagai imam pertama.
12.  Syiah bukan Islam – Non Syiah, orang selain Syiah mereka sebut nawashib. Sebutan hina.  Nawashib menurut imam-imam mereka halal hartanya.
13.  Syiah bukan Islam – Syiah menyesatkan para aimmatul madzahib imam madzhab  yang empat, Ahlussunnah.  Mereka disebut ahlul bid’ah, kafir dan sesat (kitab al-Syiah hum Ahlussunnah).
14.  Syiah bukan Islam – Istri tercinta Nabi,Aisyah, disesatkan. Imam Thabrasi mengatakan kemuliaan Aisyah gugur karena melawan Ali, dia ingkar kepada Allah.
15.  Syiah bukan Islam – Syiah mengkafirkan sahabat. Menurut mereka hanya 3 sahabat yang Islam yakni Abu Dzar, Salman, dan Miqdad.
16.  Syiah bukan Islam – Kenapa Syiah menghalalkan mut’ah. Lagi-lagi karena yg meriwayatkan haramnya mut’ah itu Umar bin Khattab. Karena kebenciannya itu haditsnya ditolak.
17.  Syiah bukan Islam – Kenapa Syiah menolak mushaf utsmani sebagai al-Qur’an? Karena yang menyusun itu Utsman yg mereka benci.
18.  Syiah bukan Islam – Dalam kitab Thaharah, Khomaini menyebut sahabat itu lebih jijik daripada anjing dan babi.
19.  Syiah bukan Islam – Syaikh Shoduq ulama Syiah, mengatakan darah nawasib (muslim sunni) itu halal.
20.  Syiah bukan Islam – Imam Khomaini pernah berfatwa bahwa nawasib itu kedudukannya sama dengan musuh yang wajib diperangi (ahlul harb).
21.  Syiah bukan Islam – Karena itu cara tepat mengenal Syiah itu dengan menelaah kitab-kitab induk mereka. Karena itu ajaran mrk sesungguhnya.
22.  Syiah bukan Islam – Jangan terkecoh dengan buku-buku Syiah sekarang. Karena penuh propaganda, intrik dan pengelabuan.
23.  Syiah bukan Islam – Syiah punya rukun agama bernama taqiyah. “La dina liman la taqiyata” artinya tidak beragama yang tidak taqiyyah, disebut dalam al-kafi.
24.  Syiah bukan Islam – Karena taqiyah itu, Imam Syafii berpesan bahwa golongan yang paling banyak bohongnya itu Syiah.
25.  Syiah bukan Islam – Maka jangan heran jika mereka mengaburkan fakta-fakta Syiah Sampang. Karena itu bagian dari aqidah. Teologi kebohongan  itulah taqiyah.
26.  Syiah bukan Islam – Waspadalah Syiah punya sayap militan. Mereka pernah mau kirim relawan ke Suriah bantu rezim Asad.
27.  Syiah bukan Islam – Seorang pengurus PBNU pernah menulis, Syiah Indonesia sedang siapkan konsep imamah di Indonesia. Dalam arti mereka sedang siapkan revolusi
28.  Syiah bukan Islam – Syiah membahayakan NKRI. Ada fatwa Khomeini yang mewajibkan Syiah untuk revolusi di negara masing-masing.
29.  Syiah bukan Islam – Gerakan Syiah didukung kelompok liberal. Pokoknya segala aliran yang rusak dan sesat yang dilekatkan pada Islam didukung Syiah. Mereka sekarang bersatu.
30.  Syiah bukan Islam – visi Syiah-liberal hampir sama dalam hal pelecehan terhadap sahabat nabi dan meragukan al-Qur’an.
31.  Syiah bukan Islam – Liberal punya ideologi relativisme. Ternyata Syiah dalam kampanye gunakan ideologi tersebut untuk kelabuhi Sunni.
32.  Syiah bukan Islam – contoh relativisme Syiah adalah, kampanye Sunnah-Syiah sama saja. Sama Tuhan dan Nabinya. Ini mencontek kaum liberal.
33.  Syiah bukan Islam – Filsafatnya orang Syiah ternyata juga berujung pluralisme dan pantaeisme. FiIsalafatnya mengadopsi paripatetik.
34.  Syiah bukan Islam – Demikianlah fakta-fakta Syiah. Jika muslim anti liberal maka seharusnya juga anti Syiah. Mereka sama-sama ideologi perusak Islam.
35.  Syiah bukan Islam – Semoga kita dan keluarga kita dilindungi dari makar Syiah dan Liberal.

Syi`ah Menurut Buya Hamka
Perkembangan Syiah di Indonesia sepanjang 35 tahun belakangan harus kita waspadai. Dulu sebelum tahun 1997, mereka hanya bergerak di jalur pendidikan, penerbitan, sosial dan mempromosikan diri lewat ajaran tasawuf. Maka setelah runtuhnya Orde baru, mereka mulai berani unjuk gigi melalui jalur politik. Salah satunya dengan mengirim kader terbaiknya duduk di kursi DPR RI. 

Orang Syiah yang pertama kali masuk parlemen ialah Zulfan Lindan (IJABI).  Pria Kelahiran Aceh ini adalah dulunya kader dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan di periode 1999-2004 pernah bertugas menjadi Anggota DPR-RI dari PDIP di Komisi IX yang membidangi keuangan, perencanaan pembangunan dan perbankan. Di periode 2004, Zulfan diduga terlibat kasus korupsi kasus aliran dana suap Bank Indonesia ke sejumlah anggota DPR di Komisi IX periode 1999-2004 untuk pemilihan Deputi Gubenur Bank Indonesia Miranda Goeltom. Mulai dari 2013, Zulfan pindah partai dan bergabung di Partai Nasdem. Zulfan diangkat sebagai Ketua DPP Bidang Organisasi & Industri Tenaga kerja oleh Partai Nasdem.

Bukan hanya zulfan, masih ada Jalaluddin Rakhmat yang kini duduk di kursi DPR RI. Jalal sempat diisukan akan dijadikan Menteri Agama RI. Namun pada akhirnya yang terpilih Lukman Hakiem Saifuddin. Pengikut Syiah di akar rumput juga meresahkan umat. Di Sampang, Bangil dan Bogor mereka bikin onar.

Baru-baru ini isu Syiah kembali mencuat, tepatnya di kebijakan pemblokiran 22 situs Islam. Yang dikatakan kepada masyarakat awam bahwa usulan pemblokiran situs ke Kominfo datang dari BNPT. Lucunya BNPT cuci tangan dan salahkan Kominfo yang blokir situs-situs tersebut (jpnn.com, 5 April 2015). Jangan lupa satu hal, aliran Syiah patut kita curigai. Bila pembaca membuka situs syiahaliwordpress.com, disitu terpampang tulisan “Mendukung Kominfo dan BNPT Memblokir Situs Radikal anti Syiah”.

Dari berbagai situsnya, Syiah berusaha membangun “citra palsu” sebagai Ahlu Bait, dekat dengan kultur NU dan mengklaim bagian dari Islam. Bahkan tak segan mengutip statemen tokoh-tokoh beken seperti Said Aqil Siraj, Hasyim Muzadi, Syafi'i Ma’arif, Quraish Shihab, Azyumardi Azra hingga Buya Hamka. Tujuan dari itu semua adalah ingin memberitahukan kepada khalayak umum bahwa Syiah bukan aliran sesat seperti yang difatwakan MUI Jatim.

Mengacu pada judul artikel ini, yang akan diulas lebih lanjut adalah Buya Hamka. Dimana statemen maupun pandangan beliau dipajang di beberapa situs dan terkadang digambarkan memihak Syiah. Mungkinkah Buya Hamka seperti demikian? Artikel ini menggunakan pendekatan kepustakaan dengan merujuk langsung ke buku-buku Buya Hamka dan dilengkapi dengan buku-buku yang relevan.

Syiah dan Sempalannya

Hamka menyentil Syiah sebagai kelompok “Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuni Allah adalah ajaran (dari suatu aliran-penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.” (Baca Panji Masyarakat edisi 15 Februari 1975)

Di era modern, Iran dikenal negeri mayoritas penganut Syiah. Iran mengadopsi Syiah sejak dinasti Shafawi berkuasa (1502 M). Kepercayaan tentang imam yang Ghaib, mengatur dunia dan agama disuatu tempat yang rahasia menjadi kepercayaan yang merata dan mendalam di sana. Jika Asy-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal, membagi Syiah ke dalam 5 kelompok besar, yaitu Kisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Syiah ghulat dan Isma’iliyah. Maka Hamka membagi Syiah menjadi 4 kelompok besar,  yaitu Kisaniyah, Isma’iliyah, Itsna ‘Asyariyah dan Zaidiyah (Hamka, Pelajaran Agama Islam, th 1989, hal 237).

Zaman sekarang Syiah Kisaniyah sudah tidak ada lagi. Sedangkan Ismailiyah di era modern diteruskan oleh Aga khan. Masih menurut Hamka, hanya Syiah zaidiyah yang agak dekat dengan Sunni. Mereka tidak begitu meyakini Imam ghaib yang amat dinanti-nanti kedatangannya oleh Syiah Itsna ‘Asyariyah. Istna ‘Asyariyah punya doktrin bahwa tidak sah menjadi Syiah kalau tidak percaya Imam ghaib datang kembali (Hamka, hal 238).

Di dalam buku Pelajaran agama Islam, Hamka punya argument yang menarik. Saking getolnya menunggu Imam yang ghaib, muncul sempalan-sempalan di tengah Syiah Itsna ‘Asyariyah. Mulai dari Syaikhiyah, Babiyah hingga Bahaiyah. Baik Babiyah maupun Bahaiyah sama-sama mengadopsi doktrin “Allah menjelma dalam dirinya” (Hamka, hal 241-242).

Hasyasyin (Assassin)


Terkait Assassin, Hamka menulis, kelompok yang dikendalikan Hasan Sabah ini tidak mau mengakui segala macam kekuasaan termasuk menentang Khalifah di Baghdad. Pengikut setianya direkrut dari  orang-orang melarat dan didoktrinkan kepada mereka perasaan anti-kekuasaan. Dan dijanjikan kepada mereka bahwa Imam yang ghaib itu sudah dekat datangnya untuk membawa keadilan sejati. Pengikut Hasan Sabah harus taat atas perintah, orang-orang yang diperintahkannya dibunuh mesti mati. Baik di jalan raya maupun di dalam istananya sendiri dengan tidak diketahui siapa pembunuhnya. (Hamka, Sejarah umat Islam, hal 423-424).

Kisah kelompok Hasyasyin atau yang di Barat dikenal dengan Assassin sempat muncul kembali di film Prince of Persia: The Sands of Time (2010). Di dalam film tersebut, kelompok Assassin berpakaian serba hitam, ahli bergerilya dan mempraktikkan sihir. Michael Bradley memasukkan Assassin ke dalam daftar 21 Secret Society  perusak dunia bersama Freemasonry, Illuminati, Templar, Opus Dei, Triad dan lain-lain. Lebih lanjut Bradley menulis, Assassin sebagai kelompok rahasia sekaligus para penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam dengan cara-cara kekerasan.  Pemimpin Assassin punya kebiasaan minum anggur hingga mabuk, lebih fatal lagi, menghalalkan membunuh umat Islam dengan dalih Jihad. Pada abad 16 M, pertahanan terakhir Assassin di Syria berhasil ditumpas oleh Turki Usmani (Michael Bradley, th 2008, hal 19-27).

Dinasti penyokong Syiah

Di dalam lembaran sejarah peradaban Islam tercatat salah satu sebab masih bertahannya aliran Syiah karena disokong kekuatan politik. Kekuatan politik yang dimaksud disini yaitu Dinasti Syafawiyah dan Fatimiyah. Syafawi ini menurut Hamka berasal dari Tarekat sufi yang didirikan Syeikh Haidar. Dia membuat lambang baru untuk pengikut Tarekatnya, yaitu sorban merah mempunyai 12 jambul, sebagai lambing 12 Imam yang diagungkan di dalam Syiah Itsna ‘Asyariyah. Haidar punya putra bernama Ismail. Ismail ini, oleh Hamka ditetapkan sebagai pendiri Dinasti Syafawiyah.
Ismail ditetapkan sebagai Raja besar dari negeri Iran dan pembela ajaran Syiah di usia 15 tahun. Syiah diadopsi menjadi mazhab resmi dan diperintahkannya kepada Khatib-khatib Jumat supaya memaki-maki khalifah yang tiga: Abu bakar, Umar dan Usman. Ismail meski fanatik Syiah, dia sering gagal menaklukkan Sultan Salim. Dia tidak terpaksa mengikat perdamaian dan tidak berani memerangi Turki usmani, sampai Sultan Salim wafat (Hamka, Sejarah Umat Islam, hal 439-441)

Saya bukan Syiah


Ketika Hamka berkunjung ke Najaf dan Karbala (Oktober 1950), penunjuk jalan menanyakan datang dari mana dan mazhab apa. Lalu Hamka menjawab dirinya dari Indonesia dan bermazhab Syafi’i. Muzawwir, sang penunjuk jalan tadi mengatakan, “Mazhab Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan Syiah dan paling cinta kepada Husain”. “Maaf, saya tidak bermazhab Syiah, tetapi saya mencintai Husain!” Jawab Hamka. (Kata pengantar buya Hamka dalam buku “Al-Husain bin Ali: Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya”, karya M. Al-Hamid al-Husaini, th 1978, hal xi)

Pendirian Hamka terhadap Syiah maupun isu revolusi Islam, ditegaskan lagi dalam artikelnya di harian Kompas (1980), “Saya tetap seorang Sunni yang tak perlu berpegang pada pendapat orang Syiah dan ajaran-ajaran Ayatullah”. Beliau menasehati kepada empat pemuda yang berencana ke Indonesia dan mengajarkan Revolusi Islam Syiah, “Boleh datang sebagai tamu, tetapi ingat, kami adalah bangsa merdeka dan tidak menganut Syiah," ujar Hamka (Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, th 2013, hal 139).

Sikap Hamka terhadap Syiah sudah jelas. Tidak ada pandangan atau statemen beliau yang memihak Syiah. Bukan soal Syiah saja nama Hamka dicatut. Dalam isu pluralisme agama, pendapat Hamka di dalam Tafsir al-Azhar pun dimanipulasi sedemikian rupa dan disimpulkan keliru oleh pemuja proyek Liberalisme (Baca tulisan Dr Adian husaini, “Hamka dan Pluralisme Agama”, Uhamka Press, 2008, hal 313-318).

Sebelum menutup artikel ini, selain Syiah dan pluralisme agama. Nama besar seorang Buya Hamka dibawa-bawa juga oleh pengikut Tarekat di Suryalaya. Dikatakan Hamka telah dibaiat oleh Abah Anom. Namun anehnya tidak ada bukti kuat, yang ada hanya foto Hamka bersama Abah Anom saja yang dijadikan argumen. Salah seorang putra Hamka, Ustaz Afif Hamka membantah keras bahwa seseorang yang bergelar Buya (khususnya yang berlaku di Ranah Minang) tidak bakalan ikutan tarekat-tarekat sufi. Wallahu’allam bishowwab





Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar