"Menginspirasi anda semua"

Jumat, 25 Maret 2016

Dakwah Tiga Materi


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu`alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Innalhamdalillah nahmaduhu wanasta`inuhu wanastaghfiruh, wa na`udzu billahi min syururi anfusina, wa min sayyiati a`malina, man yahdihillahu fala mudillalah wa ma man yudllilhu fala hadiyalah. Allahumma sholli `ala sayyidina Muhammad wa `ala sayyidina Muhammad.

Ikhwah Fillah, bahwasanya kajian materi pengajian di Masyarakat itu ringkasnya ada 3 masalah:
1. Akidah
2. Syari`ah
3. Akhlaq

Akidah dapat kita pelajari dalam kitab Tauhid, lalu Syari`ah dapat kita pelajari dalam Kitab-kitab Ilmu Fiqih, selanjutnya kajian pelajaran Akhlaq dapat kita pelajari dalam kitab Tasawuf. 

Ikhwatu Fillah rahimakumullah, dalam masalah akidah pada setiap ajaran yang diajarkan oleh para Nabi yang dimulai dari Nabi Adam As hingga Nabi Muhammad SAW pokok ajarannya sama yaitu masalah Dinul Islam atau Agama Islam yang titik sentral ajarannya adalah Tauhid kepada Allah SWT atau Meng-Esakan-Nya.

Dalam masalah Syari`ah, Allah SWT melalui para Nabi mengajarkan bahwa di tiap-tiap masa dan Nabi berbeda-beda Syari`ah atau pokok ajaran hukumnya. Syari`ah Nabi Adam As berbeda dengan Syari`ah Nabi Yaqub, berbeda pula dengan Syari`ah Nabi Musa hingga Syari`ah Nabi Muhammad SAW. Dalam Syari`ah Nabi Adam As misalnya dalam masalah pernikahan, Anak-anak Nabi Adam As boleh menikah antara kakak dan adik. Karena Siti Hawa melahirkan anak kembar dua dua, yang satu Qabil dan Iqlima yang kedua Habil dan labuda, dalam ajarannya Nabi Adam As melarang pernikahan antara Qabil dan Iqlima karena masih dalam satu waktu lahirnya lalu Nabi Adam As pun menikahkan Qabil dengan  Labuda kemudian Habil dengan Iqlima, walaupun hal itu tidak diinginkan oleh Qabil karena saudara kembarnya itu cantik dan Qabil menginginkan si Iqlima menjadi Istrinya, maka dari pernikahan keempat anak Nabi Adam inilah perselisihan antar manusia dimulai dengan diakhiri pembunuhan Qabil kepada Habil yang merupakan pembunuhan pertama yang dilakukan oleh manusia karena sikap serakah dan dengkinya Qabil terhadap Habil saudaranya itu.

Ikhwatu Fillah, kemudian kita teliti lagi masalah Syari`ah nya Nabi Yaqub, ketika zamannya Nabi Yaqub diperbolehkan poligami antara dua saudara sedarah, Nabi Yaqub punya istri dan dikaruniai sepuluh orang anak (Cikal bakal orang yahudi) dan si adik istrinya itu disukai oleh Nabi Yaqub dan Nabi Yaqub pun menikahi adik iparnya itu dan lahirlah Nabi Yusuf dan saudaranya Bunyamin. Namun, pernikahan seperti ini setelah Rasulullah SAW diutus Allah SWT untuk meyempurnakan ajaran Islam, Syari`at ini dihapus dan Rasul SAW melarang Poligami antara dua saudara sekandung kecuali salah satunya meninggal barulah kakak atau adiknya dinikahi. 

Ajaran Islam memang ajaran satu-satunya yang diridloi oleh Allah SWT, melalui ayat ketiga surat Al-Maidah. Ikhwati fillah yang dirahmati oleh Allah SWT, dalam menyangkut Syari`ah di negara kita Indonesia, sudah pasti dan paham bahwa negara kita menganut ajaran Pancasila namun patut kita pahami pula bahwasanya kelima asas Pancasila ini di susun berdasarkan Al-Qur`an dan Hadis, karena Pancasila sebenarnya merupakan implementasi ajaran Islam dan Al-Qur`an sudah menjelaskan isi dari kelima asas Pancasila ini.

Sila Pertama : "Ketuhanan Yang Maha Esa"
Sila ini sebetulnya ditunjukkan kepada umat Islam, karena Al-Qur`an telah menjelaskan di surat Al-Ikhlas ayat pertama "Qul huallahu ahad" bahwasanya Tuhan itu satu.

Sila Kedua : "Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab"
Sila ini bahwasanya Islam mengajarkan tentang arti memanusiakan manusia yang beradab
Sila Ketiga, Keempat dan Kelima merupakan isi dari ayat Al-Qur`an yang menjelaskan secara sistematis tentang Keshalihan individual dan Keshalihan sosial. Masya Allah......, betapa luar biasanya para pendiri Negara kita, karena sebetulnya mereka telah menyiapkan seluruh dasar negara ini setelah memahami Al-Qur`an dan para pendiri Negara kita sebetulnya tidak ingin menyinggung perasaan umat agama lain di Nusantara ini dan hal ini terbukti dalam Piagam Jakarta sila pertama “Ketuhanan dengan menjalankan Syaria`t Islam bagi para Pemeluk-pemeluknya”.

Bahwasanya  tim sembilan yang dipimpin oleh Bung Karno yang anggotanya mayoritas Islam dan hanya satu yang non-Muslim yakni Mr. Aa Maramis sudah setuju, sudah ketuk palu bahwa sila pertama itu berbunyi demikian, namun entah mengapa ketika esoknya sila pertama dengan 7 kalimat itu dibuang dan dibacakan "Ketuhanan Yang Maha Esa", sebenarnya umat Islam tersakiti dan dikecewakan namun Taqdir tidak bisa dipungkiri dan umat Islam harus menerima kenyataan pahit ini, dan untuk menghormati seluruh ajaran agama di Indonesia maka Pancasila sila pertama adalah "Ketuhanan Yang Maha Esa"

Ikhwatu fillah yang drahmati oleh Allah SWT selanjutnya, kita akan membahas sedikit tentang masalah tegaknya Islam di Indonesia melalui ibrah dari Jenderal Besar Sudirman. Dalam literatur yang saya baca di internet rata-rata 70 % menjelaskan kehebatan Jenderal Sudirman dalam berperang dan kecintaan beliau pada Negara, namun dibalik itu semua, Jenderal Besar Sudirman adalah seorang da`i yang taat beragama. Jenderal Sudirman sebelum berkiprah di kemiliteran sebetulnya adalah seorang Guru di HIS Muhammadiyah Cilacap, sewaktu muda beliau masuk organisasi kepanduan Muhammadiyah yang bernama Hizbul Wathon, dan disinilah Keterampilan-keterampilan kemiliteran Jenderal Sudirman di asah, ketika beliau mengajar di HIS Muhammadiyah, tentara Jepang telah sampai di Indonesia dan melucuti tentara Belanda dan akhirnya menguasai Indonesia, Naluri untuk mengusir penjajah dengan semangat jihad fissabilillah Pak Dirman Membara dan tergerak hatinya untuk kemerdekaan Republik ini, dengan memohon izin kepada pengurus HIS Muhammadiyah di Cilacap berangkatlah Pak Dirman ke Bogor untuk mengikuti pelatihan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor, begitu lulus pelatihan pak Dirman diangkat menjadi Panglima Divisi V/banyumas lalu ketika Tentara Keamanan rakyat dibentuk, Pak Dirman diangkat menjadi Panglima Besar (Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia) dengan pangkat Jenderal bintang lima pertama dan termuda sepanjang sejarah TNI. 

Ikhwatu Fillah rahimakumullah, ketika agresi militer II Belanda (Aksi Polisionil) Ibukota Negara Yogyakarta (Ibukota pada waktu itu karena Kota Jakarta sudah tidak aman) jatuh ke tangan Belanda dan Presiden beserta Perdana Menteri Ir. Sukarno dan Bung Hatta ditangkap dan diasingkan, otomatis NKRI mengalami "vakum of power" dan tanpa dikomandoi, Mr. Syafrudin Prawiranegara membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi dan berperan sebagai Presiden, hal ini terjadi agar Indonesia di mata Internasional tetap eksis dan tetap ada di dunia sehingga Belanda mendapat tekanan Internasional agar segera pergi meninggalkan Indonesia, dan inilah babak baru pemerintah yang dipimpin Syafrudin Prawiranegara, dengan tetap melakukan diplomasi ke dunia Internasional melalui PBB dan akhirnya Belanda dapat pergi dari Yogyakarta, namun ketika Belanda pergi dan Bung Karno dan Bung Hatta dibebaskan oleh Belanda ada satu hal yang sangat disayangkan oleh Jenderal Besar Sudirman, kenapa tampuk kekuasaan diserahkan kembali kepada Bung Karno dan Bung Hatta, kalau saja tetap kepada kita (Umat Islam) kekuasaan itu dipegang, sesungguhnya kita bisa, mungkin itulah mengapa Jenderal Sudirman sangat-sangat kecewa kepada pak Syafrudin, andai saja Pak Syafrudin ada dihadapan beliau tentu saja mungkin Pak Syafrudin ini di kasih pemahaman bahwa kita sebagai umat Islam mampu untuk memimpin Negara, namun itulah taqdir-Nya yang sudah digariskan Indonesia tetap tegak berdiri dibawah naungan Illahi Rabbi dengan asasnya Pancasila dan Indonesia takkan ada tanpa Perjuangan Para pendahulu dan Pendiri Negara ini.

Mungkin inilah sekelumit materi pengajian malam jum`at ini yang insya Allah membuat kita semangat untuk berjuang agar kalimat Allah tetap bergema di negeri ini dan Insya Allah mari kita doakan agar pemerintah Islam dapat memimpin negara ini dan dapat memimpin dunia pada waktunya.

Billahi fissabilil haq

Wasalamu`alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar