"Menginspirasi anda semua"

Kamis, 05 Maret 2015

Curhat Mbak IA



Assalamu'alaikum Wr Wb
Saya wanita usia 26 tahun dan akan menikah bulan juni tahun ini, namun ada yang mengganjal dalam hati saya sampai saat ini, karena saya masih “ ragu” untuk menikah dengan calon saya. ini dibanding dengan calon saya yang “tidak jadi sebelumnya", pria ini amat jauh dari kriteria saya. Saya membangun cinta dengannya.
Dulu saya pernah dilamar dengan pria yang sesuai kriteria saya ia hafal quran, pengetahuan agamanya dalam dan lulusan pesantren tapi ternyata kami tidak jodoh itu pun karena kesalahan saya yg membuatnya menikah dngan orang lain)dan itu membuat saya terpuruk bertahun tahun menyesali, beberapa orang yang melamar meskipun sesuai dengan kriteria saya tidak saya hiraukan, sampai akhirnya 4 tahun berjalan saya dilamar dengan seorang ustad yang hafal quran juga entah kenapa saat itu saya merasa ia seperti calon saya yang dahulu dan spontan saya menerimanya, ia membuat saya melupakan sosok calon saya terdahulu yang saya ratapi bertahun2. namun ternyata dengan dia pun saya kembali gagal menikah. Dan ditengah keterpurukan saya dialah (calon suami saya yang sekarang) berbaik hati menguatkan saya karena merasa berkewajiban menguatkan saya (calon suami saya sekarang adalah sepupu calon suami saya yang seorang ustad yang gagal menikah dengan saya), 1 bulan kami taaruf akhirnya ia mantap menyatakan ingin menikahi saya… awalnya saya ragu karena dia adalah saudara dari calon suami saya sebelumnya yang kini tlah menikah (luka karena gagal menikah dengan saudaranya masih terasa & hati kecil saya saya masih mencintai saudaranya)… tapi melihat kebaikannya akhirnya saya luluh dan menerimannya meski saya tau saya harus membangun cinta dengannya.


Awalanya ibu saya menolak karena alasan ‘ ia bukan dari jurusan agama” ia bukan seperti calon2 saya sebelumnya yang penghafal quran atau lulusan pesantren, ibu ingin ada yang bisa menggantikan beliau di masyarakat sebagai pendakwah dan beliau beranggapan calon saya yang sekarang takkan bisa seperti itu karena ia bukan dari jurusan agama. dan itu juga yang sampai sekarang membuat saya ragu, kadang saya sering membandingkan dengan saudaranya, dengan calon saya sebelumnya yang sesuai dengan kriteria say saya merasa jika saya menikah dengannya saya justru yang akan sering membimbing dalam pengetahuan agama. sedangkan saya ingin punya suami yang saya bisa menanyakan banyak hal seputar masalah agama dengannya… tapi saya juga kadang merasa kasihan dan tidak adil dengannya melihat kebaikan calon suami saya sekarang dan tak tega jika harus membatalkan semuanya..

Beri masukan saya mbak agar saya bisa yakin dengannya, agar saya tak ingat dengan calon saya sebelumnya dan membanding-bandingkannya dengan calon saya sebelumnya… saya ingin mencintai dia seutuhnya.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar