"Menginspirasi anda semua"

Selasa, 21 Oktober 2014

Cita-cita Tertinggi



Catatan Dr. Aidh Al Qarni 

Setelah Yusuf A.S. berhasil meraih kekuasaan, menyaksikan bukti mimpinya, berkumpul kembali bersama keluarganya dan menduduki jabatan yang tinggi dalam pemerintahan, ia tidak lupa untuk menyatakan keinginan dan cita-citanya yang teramat mulia. Ia berdoa kepada Allah SWT, “Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf: 101) Sungguh sebuah keinginan yang sangat mulia yang didambakan oleh seorang yang berakal cerdas, sebuah harapan yang teramat luhur yang diinginkan oleh seorang hamba yang saleh dan sadar.

Masalah akhir perjalanan hidup merupakan masalah besar. Ia menyangkut hasil perjuangan dan usaha yang dilakukan sepanjang hayat. Ia menentukan tempat kembali dan balasan seseorang di akhirat. Mati dalam keadaan Islam dan digabungkan bersama orang-orang yang saleh bukanlah perkara mudah. Seseorang bisa saja mendapatkan segala keinginannya sewaktu di dunia, tapi kemudian ia mati tidak dalam keadaan Islam. Bisa saja ia meraih jabatan tinggi, harta berlimpah, istri cantik dan tempat tinggal megah, tapi ia mati tidak dalam keadaan Islam. Seseorang bisa saja meraih popularitas, kecerdasan, pengaruh yang sangat besar dan pengikut sangat banyak, tapi kemudian mati tidak dalam keadaan Islam. Jika seseorang mati tidak dalam keadaan Islam, maka harta, kedudukan, jabatan, kekuasaan, persahabatan dan apapun tidak dapat menolongnya.
Dari sini keinginan dan cita-cita Yusuf A.S. untuk wafat dalam keadaan Islam dan digabungkan bersama orang-orang yang saleh merupakan keinginan dan harapan yang paling agung diantara keinginan dan harapan yang dimiliki siapapun. Orang-orang jahat boleh mendapatkan apa yang mereka inginkan, orang-orang sesat dapat meraih apa yang mereka impikan, tetapi dalam daftar keinginan dan dambaan mereka tidak ada cita-cita untuk mati dalam keadaan Islam. Diantara mereka ada yang menghabiskan umurnya dengan kesenian dan menemukan kepuasannya dalam bidang itu. Ada juga yang “dingin”, lalai dan menghabiskan waktu-waktunya di depan televisi. Dan ada juga yang bodoh dan tergila-gila oleh dunia. Mereka itu sejatinya orang-orang mati, tidak mempunyai kehidupan dan tidak pernah peduli dalam keadaan bagaimana kelak mereka akan dibangkitkan.

Sumber: Kitab Hakadza Haddatsatana Al-zaman – Dr. Aidh Abdullah Al Qarni

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar