"Menginspirasi anda semua"

Rabu, 13 Agustus 2014

Cerita Cinta

Assalamu'alaikum  Cinta...........

Selamat malam sayang,,..
Malam ini rasa kantuk belum datang dan kusempatkan waktuku yang sedikit ini untuk menyapa ruang rinduku, kuakui aku begitu merindukannya, entah siapa dirimu aku tak  tahu, yang kutahu dirimu begitu berarti bagiku. Kau sangat cantik aku sungguh sayang padamu. Kamu begitu menawan hati ini, diriku insan yang lemah yang membutuhkan kasih sayang darimu, tak sanggup rasanya bila tak berpisah denganmu.

Aku  akan menjemputmu dari kedua orang tuamu, dengan memohon izin restunya  untuk membawamu kedalam manisnya mahligai rumah tangga. Jika sudah saatnya nantu aku akan melamarmu dan membawamu ke lembah hijau yang penuh keindahan cinta. tunggu aku sayang sebentar lagi. Aku pasti datang, tunggu aku di penantian cintamu.....

###   ##  ### #  ### #   #### ## #   ## #  # # #  # ## ## ##   ## #    ###   ##   # # #

Di sudut jalan Jend. A. Yani aku terpaku, terpana dengan keputusan Riska yang telah mengungkapkan perasaannya padaku, ungkapan yang terpendam dan menusuk pintu relung hatiku. Kota Cilegon malam itu benar-benar hening, disamping sudah malam karena hari iu adalah puncak dari arus mudik menuju Sumatera. Hanya sedikit suara mobil yang lalu lalang entah kemana tujuannya, aku duduk di teras sebuah Rumah Makan Padang bersama seorang gadis yang amat kukenal, di Riska Kekasihku. Kami sudah 30 menit terdiam dalam bisu yang seakan-akan tak mau berhenti untuk diam. Ku coba untuk membelai rambutnya namun tangannya berkata tidak mau. Riska pun berkata padaku:

"yang, kita kan udah lama kenal kan??"
"iya terus?"
"kita kan udah saling mengenal........?
"memangnya kenapa??? kamu keberatan jadi pacarku???"
"enggak......, cuma apa kamu gak bosen kita begini terus?? maksudku apa kamu gak ada niat untuk melamar aku sayang,,,,?"

Sontak saja aku begitu kaget dengan apa yang dikatakan  Riska ini. aku benar-benar dibuat pusing, au telah di skak dan tak bisa berkata apa-apa lagi. namun kucoba untuk berkata semampuku.

"Riska sayang, aku begitu mencintaimu, aku.... aku takut kehilanganmu sayang"
"Terus,,,,,? apa dong buktinya??? Aku mau bukti yang, aku mau tindakan nyata dari kamu, datanglah ke rumah dan bilang pada Ayah kalau kita pacaran dan mau serius dengan hubungan kita,,,,,"

"Iya sayang, tapi aku belum siap ketemu ayahmu. aku takut"
"Kamu itu lelaki masa penakut, kamu cuma perlu bilang sama ayah kapan kamu jemput aku ke pelaminan, apa susahnya ???"

"Aduh Sayang macam kau polisi saja, aku akan jemput kamu beneran sayang"
"Mana buktinya.....? aku mau bukti sayang, ayolah. Kalau kamu gak serius sama aku ya sudah pergi sana.... silahkan kamu pergi dengan gadis-gadis yang bisa kamu bohongin,"

"Kok kamu gitu sayanaaang, ko jadi sewot gitu"
"iya dong kenapa tidak?? kalau kamu tidak gentle, ya sudah lah kita akhiri hubungan ini. kamu pergi dengan duniamu dan aku akan pergi untuk menerima tawaran Ayah, Ayah akan menikahkanku jika kamu tak segera melamarku."
"Ini ancaman apa gimana??? serius kamu???

"Hey....., aku serius mas, aku gak main-main dengan ucapanku, itu terserah kamu, jika mencintaiku segera lamar aku jika tidak biarkan aku pergi sekarang juga!!"
tunggu dulu lah barang sedikit. tuh minuman kamu belum habis....."

Riska kemudian minum sebentar untuk menenangkan dirinya, Riska tak berkata lagi setelah dia merasakan ketenangan, aku tahu bahwa betapa sulitnya aku di tagih oleh seorang wanita akan masa depanku, aku belum memiliki apapun untuk persiapan melamarnya. Riska begitu gelisah dengan diamnya aku. aku kaget setelah Riska pergi meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan yang tak dapat aku ungkap. Ya..., dia lari. Dia pergi meninggalkanku.

"Ya sudah mas, kalau mas masih diam dan masih berfikir apa yang harus mas lakukan, baiklah hubungan kita cukup sampai disini mas, aku sudah lelah menunggu, lelah rasanya menunggu selama 4 tahun pacaran, aku tak sanggup lagi untuk menjawab pertanyaan kawan-kawanku kapan aku menikah dan kawan-kawan kita sudah ada yang menikah mas!! Mereka bahkan sudah ada yang memiliki anak usia Playgroup, terserah mas sekarang. Aku sudah di Ultimatum Ayah, kalau sampai besok tidak memberi jawaban yang pasti, artinya aku akan menikah mas, tapi tidak sama mas!"

Riska pun pergi bersama dengan datangnya gerimis hujan di akhir pekan. Malam itu aku begitu shock dan bingung, aku di tinggal sendiri di sudut kota yang tengah dilanda gerimis. Riska pergi dengan Taksi yang berhenti di depan jembatan penyebrangan simpang tiga dan aku berusaha berlari untuk mengejar dan memanggilnya, namun aku gagal untuk mengejarnya, Riska menghilang di tengah malam yang tak berbintang yang saat itu tengah turun Gerimis hujan.

"Masa sih Riska begitu serius?? ah biarin aja lah, besok paling audah baikkan, wajarlah namanya juga pacaran pasti sering yang namanya berantem" (kataku dalam hati)

3 bulan kemudian............

Di kediaman Riska begitu ramai dengan para tamu, diiringi dengan musik gambus menambah haru biru saat itu. Aku tak kuasa menahan  rasa tak kusangka aku berlinang air mata saat kusampaikan ucapan selamat. Hari itu adalah hari bahagia Riska dengan suaminya, Riska tampak bahagia dengan balutan busana hijau yang serasi dengan busana pasangannya. Riska benar-benar melakukannya, dia telah menang dan aku kalah, Riska menyetujui lamaran dari putera sahabat ayahnya, dengan jujur, berani dan penuh rasa tanggung jawab, Sonny anak dari sahabat ayah Riska dengan jantan ingin menjadikan Riska sebagai Istrinya dan itu mrmbuat ayah Riska, Pak Budi sumringah karena ada Laki-laki yang berani datang padanya untuk meminta ankanya menjadi istrinya. Pak Budi sudah setuju dan tinggal diserahkan pada anakanya, Riska. Riska pun belum bisa menjawab dan meminta waktu 3 hari untuk berfikir, dan pada saat itu lah Riska berkata ketika kami makan malam berdua disuasana gerimis yang menurutku romantis.

Saat itu aku menyangka dia hanya bergurau dan tak serius, aku hanya menanggapinya dengan biasa saja, ternyata Riska benar-benar serius mengultimatum aku. Namun apalah artinya penyesalan saat ini, nasi sudah menjadi bubur, dan aku telah kehilangan cintaku, kekasih sekaligus sahabatku. Mungkin kita belum jodoh, disaat kita berhubungan tanpa status yang jelas antara lanjut ke pelaminan atau break itu merupakan ujian bagi perempuan, dan itu pun berlaku untuk Riska, disaat dia mencintai dan mengharapkanku untuk menjadi suaminya aku malah tak menggubrisnya, selamat Riska. Selamat atas pernikahanmu

Itulah sebuah kisah cintaku yang menurutka cukup tragis, aku memetik hikmah dari kisah ku itu bahwa sebagai lelaki kita harus berani dan memandang serius tentang arti sebuah pernikahan. pada dasarnya seorang wanita tidak begitu bangga jika diajak untuk berpacaran namun akan lebih banngga jika ada seorang lelaki yang bukan hanya sekedar mengajaknya mengenal cinta namun lebih dari itu dia akan bangga dan menangis bahagia jika ada seorang lelaki dengan berani datang pada orang tuanya untuk memintanya menjadi Istrinya artinya si lelaki itu mengajaknya menikah. Menikah itu merupakan sunah yang dianjurkan, setelah mengalami kejadian seperti saat ditinggalkan Riska untuk untuk menikah aku sadar bahwa aku harus berani untuk memulai hidup baru dengan menikah, saat ini ku tengah mendekati seorang gadis yang anggun dan penuh sopan santun, aku mencintainya dan aku kira dia pun sama mencintaiku, aku akan menjemputnya jika semuanya sudah siap dan lengkap. wahai sayangku  kata  ed-Coustic : "Nantikanku di Batas Waktu", jika aku sudah siap aku akan melamarmu, tunggu aku sayang. Semoga kisah cintaku ini dapat dijadikan pelajaran bagi yang lain khusunya pelajaran cinta.

Assalamu'alaikum Cinta..........



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar